Friday, December 11, 2009

getting my life back

not that my life has been every where..
it's just been off.
somewhere.

heading to an unfavorable place.

but now, i stand beyond myself, and say, i will not let anything take it from me.
i will get my life back.

amen to that.

Sunday, September 21, 2008

Mengenang Bapakku (21 Juli 1950 - 20 September 2004)

Kemarin genap sudah 4 tahun Bapak meninggalkan kita semua. Saya sendiri lupa dengan 'tanggal 20 September itu' [entah memang lupa atau memang sengaja tidak mau mengingat], sampai seorang teman mengirimkan sebuah sms yang isinya sih sekedar mengenang beliau.

A simply great man in my life.

Lalu, pagi ini saya buka email dan ada email Catatan Ramadhan dari Kak Hanni [thanks kak!] yang bercerita mengenai jihad-nya Kepala Keluarga. Jadi ingat dengan kisah serupa yang dialami Bapak.

Suatu waktu Bapak pernah mengumpulkan kita semua dan meminta ijin untuk resign dari pekerjaannya. Karena he had reached his limit... Bosnya sudah keterlaluan dalam menghina Islam dan menghina Bapak juga tentunya. Akhirnya karena perseteruan akibat hinaan terhadap agama yang dipercayainya, Bapak ingin mengundurkan diri. Saat itu, kita semua bilang, we lived it up to you, and will support any decisions you made. But then, he never resigned. He said, it's my responsibility to give you a good life, and I'll survive this, at least until I got another job.

He did. A Better one indeed.

But Bapak always showed his responsibility towards his family.He never never never left us. In anything.

Bapak, I hope Allah will take care of you like you do to us.

---

Berangkatlah kamu dalam keadaan ringan atau berat,
dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."


[QS At Taubah : 41]

******************************************************************
JIHAD
oleh Agus Syafii
https://hermes.vnuinc.org/exchweb/bin/redir.asp?URL=http://agussyafii.blogspot.com

Jihad bagi seorang kepala rumah tangga adalah perjuangan menjadikan rumah tangganya indah dan bahagia. Pergi meninggalkan tanggungjawab rumah tangga dengan alasan apapun merupakan wujud kekalahan.

Itulah sebabnya aku sangat mengagumi bang kadir, penjual mie pangsit sebelah rumah saya yang selalu sudah bersiap meninggalkan rumah di dinihari untuk pergi ke pasar. Setelah dari pasar terus menyiapkan jualannya lalu berangkat berjualan hingga menjelang malam. Semua itu dilakukannya tiap hari. Walau hari hujan atau saat ia sedang kurang sehat. Walau hari libur, di kala orang lain bisa tidur lebih lama atau bersantai di rumah. Bang Kadir tetap dengan rutinitasnya yang ia mulai sejak hari masih gelap hingga hari sudah kembali gelap.

"Saya selalu semangati diri saya dengan berpikir bahwa saya ini punya 'perjanjian' dengan Allah, yaitu tanggung jawab saya hanyalah berusaha semampu saya, lalu Allah itu yang akan menjamin kehidupan istri dan anak-anak saya . Jadi saya takut, kalau saya malas berusaha, berarti saya ingkar dari janji saya, lalu bagaimana kalau jaminan atas istri dan anak-anak saya dihentikan sama Allah dan mereka jadi terlantar?"
begitu ujarnya saat saya tanyakan apakah ia tidak ingin satu hari saja 'istirahat' dari rutinitas yang melelahkan itu.

Bagi saya, apa yang dilakukan Bang Kadir adalah berjihad di jalan Allah.

Tuesday, September 02, 2008

Stres

Aduh.. kok Syaamil ku minumnya dikit sih?

Stres!!!!!!!!!!!!!!

Friday, August 29, 2008

meddler

Me and my husband are so alike. We are meddlers.

Well, I know I am.
As for my husband, though he won't admit is, he is.

Examples of my meddling are too many to mention, and some of you probably have heard some of them.

Like the one when two of my friends got married because of me. :) Or at times, when they fought, and I jumped in, and he was mad at me for jumping in, and he was mad at his wife because of me, since it meant that she told me. Then after that, he made his wife promise not to tell me anything anymore. Of course, she just said yes to make him feel better.

And so many more to tell.

My hubby on the other hand, always, always, always, says that he doesn't like to meddle. Well, he doesn't. Not all the time. But when he does, he does it ALL OUT.

A preview for that matter then.

His friend in school is seeing this guy, whom he thinks is not good for her. And what he did? He asked his friend not see him again, and even pointed out to his friend that her boyfriend is just not good for her. Does his friend care? Like all in love, of course NOT.

Why do I ramble about this?

Now, one of his closest friend from high school is having trouble with his girlfriend. And like the true meddlers that we are, we are stepping in as if we can stop their problems.

Not only that, it has become the talk for us, in the car, while waiting for our ride, in the bedroom, while feeding my kid, even before we go to sleep at night, all we talk about is HOW to solve our friends' problems.

I just hope that this time, our meddling will make these two friends get back together, and not worsen matters.

Since, that's our sincere goal as meddlers, to make things better.

..and not the other way around [as we always do].

Monday, August 11, 2008

Kompas.Com

Belanja Iklan Rokok Sepi di Semester I 2008

JAKARTA, SENIN-Gencarnya kampanye antirokok oleh berbagai kalangan turut mempengaruhi menurunnya porsi belanja iklan produk rokok. Iklan rokok di seluruh media turun 7 persen dari semester I tahun sebelumnya yang mencapai Rp 748 miliar menjadi hanya Rp 699 miliar pada semester I tahun 2008.

Kecenderungan penurunan iklan rokok ini, menurut Senior Manager Business Development Nielsen Media Research Indonesia (NMRI) Maika Randini, baru terjadi pada tahun 2008 ini. Pasalnya, berbagai media mulai memberlakukan pembatasan terhadap iklan rokok. Seperti halnya batasan jam tayang iklan rokok di televisi harus diatas pukul 21.00. "Sekarang produk rokok larinya ke sponsorship karena iklan di media dibatasi geraknya," kata Maika, di Jakarta, Senin (11/8).

NMRI memaparkan belanja iklan produk rokok filter Gudang Garam Int`l mengalami penurunan 70 persen menjadi Rp 19 miliar pada semester pertama dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 66miliar. Dikatakan televisi yang biasanya menjadi pilihan bagi iklan rokok juga mengalami penurunan 9 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp 674 miliar menjadi Rp 615 miliar pada tahun 2008. Sementara belanja iklan rokok di koran, majalah dan tabloid tidak masuk dalam daftar 10 besar belanja iklan hasil riset NMRI.(C10 -08)

Perang Tarif, Belanja Iklan Telekomunikasi Naik

JAKARTA, SENIN - Perang tarif antaroperator telekomuniasi mempengaruhi kenaikan belanja iklan di berbagai media sepanjang semester pertama 2008. Exelkomindo (XL) menghabiskan belanja iklan Rp 139 miliar atau meningkat 209 persen dibanding semestaer pertama tahun sebelumnya. Hal itu diungkapkan oleh senior manager bisnis development Nielsen Media Rrasearch Indonesia (NMRI), Maika Randini di Jakarta Senin (11/8).

"Operator telekomunikasi sedang hobi beriklan karena mereka gencar perang tarif" kata Maika. Berdasar data hasil penelitian NMRI, belanja iklan beberapa provider operator telekomunikasi mengalami kenaikan dibanding semester I tahun 2007. Selain XL, belanja iklan Esia juga naik 57 persen menjadi Rp 131 miliar dibanding tahun lalu yang hanya Rp 44 miliar.

Sementara kitu, Indosat IM3 naik 209 persen menjadi Rp 119 miliar, pada semester yang sama tahun lalu tercatat Rp 38 Miliar. Sedangkan Indosat Mentari naik 104 persen menjadi Rp 118,6 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 58 miliar. Telkom Flexi juga naik 72 persen menjadi Rp 110 miliar, dari Rp 64 miliar dan Telkomsel SimPATI naik 7 persen menjadi Rp 101 miliar dari Rp 95 miliar.

Namun untuk provoder operator telekomunikasi Telkomasel secara keseluruhan, turun 21 persen menjadi Rp 85 miliar dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 108 miliar. Reasearch ini dilakukan oleh NMRI pada 93 koran, 149 majalah dan tabloid, serta 19 stasiun televisi dengan tidak menghitung iklan baris serta diskon promo dan sebagainya. (c10-08)


Calon Pemda Paling Doyan Beriklan

JAKARTA, SENIN - Belanja iklan calon pemerintah daerah meningkat tajam pada semester ini.

Nielsen Media Research Indonesia (NMRI) memaparkan, pada semester I tahun 2008 belanja iklan calon pemerintah daerah di media massa melejit menjadi Rp 125 miliar ketimbang periode yang sama tahun lalu. Total belanja iklan di media massa untuk kategori koran, majalah dan tabloid, serta televisi tersebut pada semester lalu cuma Rp 19,5 miliar.

"Jadi, pada sektor ini calon pemda menyumbang lima persen dari total belanja iklan," kata Senior Manager Bussiness Development NMRI, Maika Randini, kepada pers, Senin (11/8). Dikatakan, televisi menjadi incaran para calon pemda dengan porsi 62 persen atau setara dengan Rp 22 miliar. Sementara, kategori koran menempati posisi kedua yakni 34 persen. Di posisi ketiga, ada majalah dan tabloid yang memperoleh bagian 4 persen.

Riset yang didasarkan pada publish rate card (daftar harga iklan) yang tidak termasuk iklan baris dan tidak menghitung diskon dan promo ini meneliti 93 koran, 149 majalah dan tabloid serta 19 stasiun televisi.


Belanja Iklan Semester I/2008 Tertinggi dalam Tiga Tahun

Dari Media Indonesia

JAKARTA--MI: Belanja iklan semester I tahun ini tercatat paling tinggi selama tiga tahun terakhir, sebesar Rp19,56 miliar atau tumbuh 24% dibanding periode sama tahun lalu.

Iklan terbesar berasal dari sektor telekomunikasi yang bersaing ketat dengan otomotif.

Yang menarik, kali ini belanja iklan pemerintah terkait penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan presiden (pilpres) terlihat melonjak hingga 79%, sebesar Rp769 miliar. Padahal tahun lalu, belanja iklan pemerintah tercatat hanya sebesar Rp429 miliar.

Manajer Senior Pengembangan Bisnis lembaga riset Nielsen Media Research Maika Randini mengungkapkan hal tersebut, dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (11/8).

"Belanja iklan pada semester I/2008 memperlihatkan adanya perubahan pola belanja dalam tiga tahun terakhir. Pertumbuhan belanja iklan terbesar terjadi pada 2004 sebesar 50% ketimbang 2003," kata Maika.

Pada 2005, belanja iklan tumbuh 13% dan naik menjadi 15% pada 2006. Tahun selanjutnya, belanja iklan tumbuh 16% dari Rp13,6 miliar (2006) menjadi Rp15,8 miliar (2007).

Nielsen mencatat, belanja iklan di sektor telekomunikasi semester I/2008 mencapai Rp1,9 triliun atau tumbuh 57%, dibanding periode sama 2007 sebesar Rp1,2 triliun. Di posisi kedua, industri otomotif dilaporkan mengeluarkan dana sebesar Rp848 miliar atau naik 20% untuk belanja iklan mereka.

"Otomotif terlihat sedikit mengerem belanja iklan pada semester kemarin. Mungkin belanja iklan akan difokuskan pada semester II/2008," terangnya.

Di sektor telekomunikasi, belanja iklan tertinggi dikeluarkan oleh PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) dengan jumlah Rp139 miliar atau naik 219% dibanding periode sama tahun lalu yang hanya Rp44 miliar.

Di belakangnya, produk telekomunikasi andalan Bakrie Group yakni Esia tercatat mengeluarkan belanja iklan sebesar Rp131 miliar atau naik 57% dibanding tahun lalu yang hanya Rp83 miliar.

Belanja iklan terbesar ketiga ditempati oleh Indosat dan Telkom Flexi di urutan keempat."Telkomsel sendiri menurunkan anggaran belanja iklannya hinga 21% sebesar Rp85 miliar. Padahal tahun lalu Telkomsel membelanjakan Rp108 miliar untuk iklan di sejumlah media," urainya.

Secara keseluruhan, kata Maika, pengiklan masih memfavoritkan media televisi sebagai tempat mereka beriklan. Televisi tercatat mengumpulkan 62% pangsa pasar iklan, pada semester I/2008. Nilainya mencapai Rp12 triliun.

"Sementara media cetak hanya memperoleh pangsa pasar 34% dan majalah 4%," tandasnya.(Zhi/OL-2)

Saturday, July 26, 2008

Kata Mama Elly..

Pia baru aja balik dari rumah ibunya.. Mama Elly.

Dia cerita kalau mama Elly-nya itu bilang, Pia itu cantik kayak Mama Elly, dan bukan kayak Mama Kikie.

Ini bukan yang pertama. Ini yang kesekian kali.

Kenapa sih mesti ngomong kayak gitu???????????????????????????

Kenapa sih harus selalu mengatakan hal2 yang bua hati orang lain sedih? Daripada mengatakan hal2 yang tidak baik seperti itu, kenapa tidak berterima kasih karena walaupun awalnya gue yang menawarkan untuk merawat Pia, toh gue merawat anaknya dengan baik? Karena walau apapun toh gue tetap menyayangi Pia dan tidak pernah menganggap bahwa dia anak tiri gue?

Kenapa sih harus ada orang seperti itu dalam kehidupan gue?

Kenapa sih?

...

Allah itu Maha Mengetahui..

Jadi, walaupun kata sebagian orang (yang justru dekat denganku dan tidak mengatakan hal2 yang menyakitkan hati) aku bukan ibu yang baik, aku percaya aku ibu yang baik. Dengan caraku, aku akan menjadi ibu yang baik.

Walaupun tidak sesuai dengan teori yang ada diberbagai buku2 pintar 'bagaimana cara mendidik anak', aku akan menjadikan anak2ku anak yang baik dan berguna. Amin.

Karena ketika Allah menitipkan anak2 ini kepadaku, insya Allah, Allah Mengetahui bahwa aku akan menjadi ibu yang baik dan akan mendidik anak2ku dengan sekuat tenagaku. Dengan CARAKU!

Bukan cara orang2 yang MERASA tahu cara yang baik.

TITIK.

Wednesday, July 23, 2008

[untitled]

These past months, I often wish that I have the power to say that I want to leave this big house. The big house that my parents bought back when my sisters and I were young (and still think that nothing can set us apart).

I don't why I can't leave this house. Many times I have tried but I can't. Maybe because I am afraid that my mom would be alone once I am not here, since all my sisters have their own place to stay, but most likely because I probably just don't have the guts to do so. (I know that some would agree to the latter, and not the first, since by now they would find out that their big sister doesn't have any courage after all).

These past months, I also often wish that I live so far away from my family especially my sisters, though I can't because I depend on them on times when I can't even stand on my feet (not that this happens often, but the thought that some people are ready to lend their hands for you is nice). But living with families have annoying downside as well, especially when they try to meddle.

Meddle is one thing.

Let's mix meddle with judgement and add some sprinkles of tantrum. Wow. Tell you what happen, you'll see some screaming, some door slamming, some cryings, some frowning, and in the end, some GOOD OL' SILENCE!

I am the queen of meddling, especially in my sisters' life, but I thought I should stop it once they are all married, since they are now much much wiser in doing whatever they need to do.

They are.

The only thing is, they think that I can't be wise in the choices I made in my life.

'I don't treat my mom the way I should.'

'I don't pay the things I should pay in the house.'

'I yell at my daughter too much.'

'I don't spend too much time with my daughter.'

'I don't hold my son well.'

'I shouldn't treat the maid the wrong may.'

'I am too tough on my daughter.'

'I don't take my daughter out for fun often enough.'

'I read the Koran in the wrong way.'

'I shouldn't talk to my husband the way I do.'

'Your daughter is 'naughty' because of you.'

Sometimes, I wish that I can do things my way, without judgement. If it's not good, then be it not good for ME.

Sometimes, I just wish for respect.

and no sharp-tongue please.. trust me, it hurts like crazy.